Headlines News :

Asal -Usul Joko Tingkir (Mas Karebet) Yang Jadi Ikon Persela

Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir. Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.
Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kerajaan Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir).
Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
Silsilah Jaka Tingkir :
Andayaningrat (tidak diketahui nasabnya) + Ratu Pembayun (Putri Raja Brawijaya)→ Kebo kenanga (Putra Andayaningrat)+ Nyai Ageng Pengging→ Mas Karebet/Jaka Tingkir

Mengabdi ke Demak

Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati raja Demak Trenggana sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.
Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan menggunakan Sadak Kinang. Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara tua ayahnya / kakak mendiang ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
Rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit sampai ke tujuan.
Saat itu Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya.
Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
Kisah dalam babad tersebut seolah hanya kiasan, bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak, dan ia tampil sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati raja kembali.

Menjadi Raja Pajang

Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Trenggana.
Sepeninggal Trenggana tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya juga membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Sore. Pangeran Sekar merupakan adik kandung Trenggana sekaligus juga merupakan murid pertama Sunan Kudus. Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober. Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara.
Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.

Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus.
Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan mentaok/Mataram sebagai hadiah.
Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang.
Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Hadiwijaya sebagai raja pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Sunan Prawoto yang menjadi Adipatinya
Hadiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.

Sumpah setia Ki Ageng Mataram

Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah Hadiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.
Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya saat ia dilantik menjadi raja usai kematian Arya Penangsang.
Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.
Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.

Menundukkan Jawa Timur

Saat naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Trenggana, banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri. Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura, dan Blambangan.
Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Hadiwijaya raja Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya.
Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya.
Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut. Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir.

Pemberontakan Sutawijaya

Sutawijaya adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat Hadiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh.
Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus.
Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban), serta Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya. Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga.
Maka sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Hadiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri.
Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.
Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.

Kematian

Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Hadiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut.
Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.
Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.
Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua. Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela.
Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.

Pengganti

Hadiwijaya memiliki beberapa orang anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak. Arya Pangiri sebenarnya adalah anak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang menggantikan Trenggana menjadi raja Demak.
Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus) untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang putra mahkota disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang dengan nama tahta Ngawantipura.

Legenda Asal - Usul gajah Mada dari Modo - Lamongan



Desa Cancing – Gunung Ratu terletak di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, berada di wilayah Kecamatan Ngimbang, Lamongan. Secara Geografis, daerah tersebut berbatasan dengan Kabupaten Jombang dan Mojokerto (tempat pusat kerajaan Majapahit).
Penulis sendiri kebetulan dilahirkan di Desa Sekidang, sekitar 10 km sebelah utara Gunung Ratu. Sewaktu kecil, saat itu Desa Sekidang belum ‘digusur’ menjadi areal Waduk Gondang, penulis sedikit banyak mendengar cerita rakyat tentang Gajah Mada. Beberapa diantaranya Tersingkirnya Dewi Andongsari (Ibu Gajah Mada) dari Keraton Majapahit, Peristiwa Kucing dan Ular, Tempat Joko Modo (Gajah Mada) mengembala kerbau (angon kebo), dan beberapa kisah masa kecil Joko Modo. Waktu SD dulu, lebih dari 20 tahun yang lalu, selain menggembala sapi dan cari kayu bakar, penulis sering ikut kegiatan Pramuka. Yang paling berkesan ialah saat Penjelajahan. Sekali waktu, rute penjelajahan yaitu Desa Sekidang, Jegreg, Plapak dan Cancing (Gunung Ratu).
Untuk menuju ke makam tersebut, harus melewati tangga undakan. Saat itu, saya dan beberapa teman menghitung berapa undakan yang dilewati. Hasilnya, bervariasi. Sampai di atas, saya melihat makam Dewi Andongsari kelihatan sering diziarahi orang, nampak dari banyaknya taburan bunga. Hal yang sama juga nampak ditempat Kucing dikubur—yang ditandai dengan bongkahan batu. Menurut cerita yang beredar, situs pemakaman tersebut sering disalahgunakan, misal mencari ilmu atau juga ngalap berkah.
Foto_penunjuk jalan ke gunung ratu
Foto_penunjuk jalan ke gunung ratu
Kondisi pemakaman saat ini, jelas jauh berbeda. Lokasi tersebut sudah direhab oleh Pemkab Lamongan dan difungsikan sebagai Peninggalan Situs Bersejarah sekaligus tempat Wisata Sejarah. Setiap hari tempat tersebut dikelola dan dirawat oleh Mbah Sulaiman, seorang juru kunci dari Makam tersebut. Menurut Mbah Sulaiman inilah bukti fisik akan keberadaan asal usul Gajah Mada. Gunung atau biasa juga disebut bukit Ratu, dulunya merupakan petilasan dari Dewi Andong Sari yang diusir dari Majapahit karena iri hati dari permaisuri Dara Petak dan Dara Jingga karena dikhawatirkan memiliki seorang putra. Di bukit inilah tempat Dewi Andongsari menjalani hari-harinya sampai akhirnya melahirkan Joko Modo (Gajah Mada).
Kisah berawal ketika pada suatu hari Desa Cancing kedatangan sekelompok prajurit Majapahit yang sedang mengiringkan istri selir Raden Wijaya yang sedang mengandung.  Sekelompok prajurit tersebut mendapat tugas rahasia untuk menyingkirkan (mungkin membunuh) Dewi Andong Sari, tapi karena suatu hal Dewi Andong Sari tidak dibunuh melainkan hanya disembunyikan di desa Cancing yang terletak di dalam hutan jauh dari pusat pemerintahan majapahit (± 35 km arah barat laut dari Trowulan). Jalur desa tersebut dekat dengan jalur perjalanan Majapahit-Kadipaten Tuban.


Saat itu, desa tersebut dipimpin oleh Ki Gede Sidowayah yang juga mempunyai keahlian membuat senjata pusaka (Mpu). Setelah usia kandungan cukup maka lahirlah bayi laki-laki, tapi sayang Dewi Andong Sari tidak berumur panjang. Pada saat putranya masih kecil ia meninggal dunia dan dimakamkan di tempat tersembunyi yaitu di atas bukit dan di tengah rimbunnya hutan. Bukit itulah yang kemudian lebih dikenal dengan nama Gunung Ratu.
Foto_ jalan (tangga berundak) ke gunung ratu_cancing
Foto_ jalan (tangga berundak) ke gunung ratu cancing
Pernah pada suatu ketika, saat Gajah Mada masih bayi, Dewi Andongsari turun dari bukit hendak mengambil air di telaga (sendang) yang terletak di bawah bukit. Gajah Mada ditinggal sendirian, hanya ditemani kucing setia milik Dewi Andongsari. Pada saat itulah seekor ular hendak mematok Gajah Mada. Kucing milik Dewi Andongsari menghalanginya sehingga terjadi perkelahian. Si kucing berhasil menggigit ular hingga mati. Beberapa saat kemudian, Dewi Andongsari datang dan langsung melihat kucing yang mulutnya penuh darah. Dewi Andongsari menyangka bahwa kucing tersebut telah menggigit Gajah Mada. Kucing itu pun kemudian dia pukul. Tapi Dewi Andongsari pun kemudian tersadar ketika tak jauh dari bayinya, terlihat bangkai ular. Dewi Andongsari menyesal bukan main, apalagi tak lama kemudian kucing itupun mati.
Sampai sekarang keberadaan telaga tersebut masih ada, demikian juga dengan tempat dikuburkannya kucing tersebut.
Tak lama setelah peristiwa itu, Dewi Andongsari pun meninggal. Oleh warga desa Cancing jenazahnya dimakamkan di bukit tersebut, tak jauh dari kuburan kucing kesayangannya. Bayi Gajah Mada sendiri kemudian diambil oleh Ki Gede Sidowayah…


Ki Gede Sidowayah tidak mempunyai istri. Dia merasa kasihan dan khawatir bayi tersebut tidak terurus dengan baik. Oleh karena itu, bayi tersebut diserahkan pada adik perempuannya (janda Wara Wuri) yang tinggal di desa Modo. Bayi laki-laki tersebut tumbuh sehat dan cerdas yang kemudian dipanggil dengan nama Joko Modo (pemuda dari Modo).
Foto_lokasi area makam dewi andongsari
Foto_lokasi area makam dewi andongsari
Seperti pemuda desa pada umumnya, Joko Modo pun ikut bekerja membantu orang tua angkatnya yaitu sebagai pengembala kerbau. Karena kecakapanya Joko Modo oleh sesama teman penggembala dianggap sebagai pemimpin. Meskipun hanya sebagai pemimpin sekelompok anak gembala, ternyata bakat kepemimpinannya mulai nampak.
 
Untuk memudahkan mengawasi kerbau-kerbau yang sedang digembala tersebut, Joko Modo dan kawan-kawan gembala lainnya naik di atas bukit kecil sehingga jarak pandangnya menjadi jauh dan luas. Bukit tersebut sampai sekarang masih ada dan oleh masyarakat setempat dinamakan Sitinggil (Siti= tanah, Inggil= tinggi) artinya tanah yang tinggi.
Pada saat Joko Modo diatas bukit sambil mengawasi kerbau-kerbaunya itu tidak sengaja ia pun kadang-kadang melihat iring-iringan prajurit Majapahit menuju Tuban atau sebaliknya dari Tuban menuju majapahit. Hal ini terjadi karena letak Modo memang berada diantara Majapahit dan Tuban.
Dari seringnya melihat iring-iringan prajurit Majapahit yang gagah-gagah tersebut membuat hati Joko Modo tertarik, kelak suatu saat ia ingin menjadi prajurit Majapahit juga. Ki Gede Sidowayah sendiri diberi hadiah tanah perdikan di Songgoriti Malang. Hadiah tersebut nampaknya sebagai penghargaan pada Ki Gede yang diam-diam berhasil menyelamatkan Dewi Andongsari dan memelihara bayinya. Ki Gede Sidowayah tidak lupa mengajak pula Joko Modo ke Songgoriti, dengan pertimbangan agar jiwa, sikap, serta cara berpikir Joko Modo yang cerdas dan cakap bisa berkembang dengan baik. Hal ini dimungkinkan karena Songgoriti daerahnya lebih subur dan makmur jika dibandingkan dengan Modo atau Ngimbang Lamongan yang letaknya jauh di dalam lebatnya hutan belantara.
foto_makam dewi andongsari di gunung ratu
foto_makam dewi andongsari di gunung ratu
Karena kecakapan dan kepandaiannya tersebut dan didukung oleh pengaruh Ayah angkatnya yaitu Ki Gede Sidowayah maka Joko Modo akhirnya tercapai cita-citanya yaitu menjadi prajurit Majapahit, yang kelak Kemudian kariernya terus menanjak sehingga menjadi Patih Gajah Mada, seorang tokoh besar di Kerajaan Majapahit.
*
Berikut ini analisa seputar Legenda Gajah Mada dari Lamongan:
1. Peristiwa penculikan Dewi Andong sari dari Keraton Majapahit (1299 M)
Adanya peristiwa rencana pembunuhan terhadap istri Selir Raden Wijaya yang sedang mengandung yaitu Dewi Andong Sari sangat mungkin terjadi atas kehendak Putri Indreswari yaitu Dara Petak yang berasal dari Melayu.
Dara Petak adalah Putri Melayu yang datang ke Majapahit bukan atas kehendak sendiri, melainkan dibawa oleh Kebo Anabang (Pemimpin ekspedisi Pamalayu) sebagai putri rampasan sebab negerinya ditaklukkan oleh Singosari / Majapahit. Ketika ia diperistri oleh Raden Wijaya tentu bukan bukan atas dasar cinta tapi karena terpaksa karena itu punya gagasan dalam hati yaitu Melayu bisa tunduk pada Majapahit tapi keturunan Melayu yaitu anaknya suatu saat harus jadi Raja Majapahit.
Ketika ia melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Kalagemet (Jayanegara) tahun 1294 M. Ia sangat senang, sebab kedua anak Raden Wijaya permaisuri yang lain semuanya wanita, yaitu : Diyah Tribhuana Tungga Dewi dan Diyah Wiyat Sri Raja Dewi. Dengan demikian cita-citanya pasti terwujud, sebab sepeninggal Raden Wijaya tahta Kerajaan pasti jatuh ke tangan anaknya.
Tapi perasaan gembira itu berubah jadi cemas setelah tahu istri Selir Raden Wijaya yaitu Dewi Andong Sari teryata hamil, jika nanti Dewi Andong Sari melahirkan anak laki-laki tentu akan jadi Bantu sandungan bagi cita-citanya. Karena itu sebelum Dewi Andong Sari melahirkan ia harus segera segera dilenyapkan.

2. Ditinjau dari segi geografis
Posisi Desa Cancing, Ngimbang dengan Trowulan (pusat kerajaan Majapahit) jika ditarik garis lurus 35 km, suatu jarak yang masuk akal sebagai jalur pelarian untuk tempat sembunyinya Dewi Andong sari, apalagi Cancing berada di dalam lebatnya hutan. Demikian juga dengan letak Modo (sekarang Kec. Modo). Diceritakan, Joko Modo sering melihat iring-iringan prajurit Majapahit menuju Tuban atau sebaliknya dari Tuban menuju Majapahit, itu sangat masuk akal sebab Modo memang terletak di antara jalur Majapahit dengan Tuban.
 
3. Ditinjau dari segi politik
Pada saat pemberontakan Ra Kuti (1319) Gajah Mada yang saat itu menjadi kepala pasukan Bhayangkara menyelamatkan Raja Jaya Negara dengan sembunyi di Desa Badander. Para sejarawan banyak yang menduka bahwa Badander yang dimaksud itu adalah Dander di Bojongoro, padahal tidak. Sebab ada lagi nama Desa yang namanya persis sepert yang disebut dalam Negara Kertagama yaitu Badander (buah dander) yang berada di kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang.
Jarak antara Desa Badander dengan Cancing, Ngimbang hanya 10 km, sedang jarak Badander Trowulan 25 km, sehingga sangat mungkin yang dimaksud Desa Badander tempat persembunyian Raja jayanegara kerena adanya pemberotakan Rakuti adalah Badander tersebut (bukan Dander Bojonegoro).
Suatu kebiasaan, jika ada kerusuhan di ibu koa maka para pembesar ibu kota berusaha menyelamatan diri ke Daerah asalnya yaitu daerah dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Dengan pertimbangan itu, tentu mendapat dukungan dan perlindungan dari masyarakat sekitarnya, di samping juga menguasai medan sehingga banyak membantu untuk perjuangan berikutnya.
Demikian juga halnya dengan Gajah Mada, kemungkinan besar benarya ia tidak senaja sembunyi di Desa Badander melainkan ke Desa Cancng (Ngimbang) tempat ia berasal. Tapi karena kondisinya pada saat itu tidak memungkinkan disamping letak Badander dengan Ngimbang sangat dekat apalagi adanya jaminan perlindungan dari Ki Buyut Badander, maka dipilihnya Badander sebagai tempat persembunyian sementara sambil menyusun siasat untuk merebut kembali tahta kerajaan dari pemberontak Ra Kuti.
 
4. Ki Gede Sidowayah mendapat hadiah tanah perdikan di Songgoriti Malang.
Dalam sejarah adalah hal yang wajar jika seseorang mendapat hadiah tanah perdikan dari Raja sebagai imbalan karena orang tersebut berjasa besar pada Raja atau Negara. Demikian juga halnya dengan Ki Gede Sidowayah yang mendapat tanah perdikan di Singgoriti.
Ada dua kemungkinan Ki Gede Sidowayah mendapat tanah perdikan di Songgoriti yaitu :
(a). Sebagai seorang Mpu mungkin Ki Gede Sidowayah pernah membuat sejenis pusaka yang ampuh untuk Raden Wijaya. Tapi kemungkinan ini lemah, sebab diantara banyak pusaka peninggalan Majapahit tdak dikenal buatan Mpu Sidowayah. Disamping itu dalam sejarah belum pernah ada seseorang mendapat hadiah tanah perdikan hanya karena berjasa membuat pusaka untuk Raja.
(b). Karena Ki Gede Sidowayah berjasa besar yaitu menyelamatkan garwo selir R. Wijaya yang sedang mengandung hingga melahirkan dengan selamat. Untuk menjaga kerahasiaan tersebut Ki Gede Sidowayah diberi hadiah tanah perdikan yang letaknya sangat jauh dari Lamongan yaitu di Songgoriti Malang. Sebab jika diketahui bahwa R. Wijaya punya anak laki – laki selain Kalagamet, maka bias timbul masalah besar dalam proses pergantian raja sepeninggalan R. Wijaya nanti. Mungkin kedua inilah yang agak lebih mendekati kebenaran.
 
5. Peristiwa Tanca tahun 1.328 M (Bhasmi bhuto nangani ratu = 1250 C)
Dalam Pararaton disebutkan selama Ra Tanca menjalankan tugas pengobatan terhadap raja Jayanegara Gajah Mada mengawasinya, begitu Tanca membunuh Jayanegara maka Gajah Mada langsung membunuh Ra Tanca
Dalam Pararaton tersebut dengan jelas mengatakan kalau Jayanegara meninggal karena dibunuh oleh Ra Tanca, kemudian Ra Tanca langsung dibunuh oleh Gaja Mada tanpa proses pengadilan. Kita semua sependapat jika Ra Tanca membunuh Jayanegara karena sakit hati sebab istrinya pernah diganggu oleh Jayanegara. Tapi mengapa Ra Tanca langsung dibunuh oleh Gaja Mada tanpa proses pengadilan? Tidak ada orang mempermasalahkan .
Kalau kita memperhatikan cerita rakyat Ngimbang tentang Joko Modo, sangat mungkin bahwa peristiwa pembunuhan Jayanegara oleh Ra Tanca adalah hasil skenario Gajah Mada sendiri. Sebab ibunda Gajah Mada Yaitu Dewi Andong Sari dilenyapkan dari istana oleh ibunda Jayanegara yaitu Dara Petak. Peristiwa itu tentu sangat menyakitkan hati Gajah Mada, sehingga timbullah niat balas dendam yaitu melenyapkan Jaya negara melalui tangan Ra Tanca, setelah itu Ra Tanca langsung dibunuhnya untuk menutup rahasia selamanya.
 
6. Peristiwa Bubat tahun 1357 M (Sanga Turangga Paksa Wani = 1279 C)
Ketika raja Hayam Wuruk sudah cukup dewasa untuk menikah, maka dikirimkan ke segala penjuru untuk mencari wanita yang paling cantik, segala lukisan yang dikirimkan ke Majapahit tidak ada yang menarik kecuali lukisan putri Sunda yaitu “ Diyah Pitaloka“. Maka dipinanglah Diyah Pitaloka untuk menjadi permaisuri Raja Hayam Wuruk.
Pada saat upacara pernikahan terjadilah beda pendapat antara Gajah Mada dengan keluarga pihak pengantin putrinya yaitu : Gajah Mada menghendaki agar raja Sunda menyerahkan putrinya kepada Raja Majapahit sebagai upeti, sedang raja Sunda menghendaki upacara pernikahan sebagaimana mestinya, yaitu putrinya harus dijemput oleh keluarga Majapahit denga upacara pernikahan sebagaimana biasanya.
Beda pendapat tersebut tidak dapat diselesaikan maka terjadilah perang yang mengakibatkan terbunuhnya semua orang Sunda termasuk calon permaisuri yaitu Diyah Pitaloka. Peristiwa tersebut terjadi di lapangan Bubat karena itu dinamakan perang Bubat dan terjadi tahun 1256 C /tahun 1357 M. Peristiwa Bubat tersebut jelas kesalahan besar Gajah Mada, akibat tindakan Gajah Mada tersebut tidak saja berakibat gagalnya pernikahan Hayam Wuruk tapi juga meninggalnya calon permaisuri Diyah Pitaloka beserta keluarga pengiringnya Karena kesalahan itu kemudian Gajah Mada diberi sanksi yaitu dibebas tugaskan selama 2 (dua) tahun (1357 1359 M).
Mengapa kesalahan Gajah Mada yang begitu besar terhadap raja hanya mendapat hukuman ringan? Mengapa pula Gajah Mada terlibat begitu dalam soal pernikahan Hayam Wuruk? Banyak kemungkinan untuk menjawabnya, diantara jawaban itu ialah: Hayam Wuruk tahu bahwa Gajah Mada itu pamanya sendiri. Hal ini terjadi karena Gajah Mada adalah adik ibunda Hayam Wuruk (Diyah Tribhuwana Tungga Dewi) satu ayah lain ibu. Gajah Mada anak R. Wijaya dari istri selir (Dewi Andongsari), sedangkan Diyah  anak R. Wijaya dari permaisuri Gayatri.
 
7. Gajah Mada tidak mau kudeta terhadap kekuasaan Hayam Wuruk
Pada saat Hayam Wuruk dinobatkan sebagai Raja, ia baru berusia 17 tahun. Segala urusan pemerintahan diserahkan kepada Gajah Mada. Bahkan sejak masa pemerintahan ibunda hayam Wuruk yaitu Tribhuwana Tungga Dewi urusan pemerintahan seolah diserahkan sepenuhnya kepada Gajah Mada.
Keadaan seperti itu sangat memungkinkan jika Gajah Mada mau kudeta, dalam arti Gajah Mada mau kudeta maka tidak akan ada hambatan yang berarti. Lalu timbul pertanyaan mengapa Gajah Mada tidak melakukan kudeta? banyak kemungkinan untuk menjawab, diantaranya jawaban itu ialah : “karena raja Hayam Wuruk masih Keponakan Gajah Mada sendiri “.
***
(2) Beberapa Pendapat dan Dugaan lain berkaitan Asal-Usul Gajah Mada
Berikut ini penulis tampilkan ringkasan artikel berkaitan dengan asal-usul Gajah Mada. Beberapa pendapat menyatakan bahwa Gajah Mada berasal dari Sumatera, Bali, Kalimantan, NTB dan Mongol.
1. Versi Sumatera
Seperti kita kita ketahui bersama, jaman dahulu nama orang identik atau disimbolkan dengan nama-nama hewan. Raja Majapahit yang terkenal, H(ayam) Wuruk sendiri mempunyai arti ayam jantan. Beberapa nama hewan yang biasa dipakai antara lain : Mahesa(Sapi), Lembu, Kebo, Banyak (Angsa) dll.
  • Menurut Nagarakretagama, Mahesa Cempaka memiliki anak Dyah Lembu Tal yang diberi gelar Dyah Singhamurti dan kemudian menurunkan Raden Wijaya.
  • Ronggolawe, adalah putera Ario Banyak Wide alias Ario Wiraraja bupati Sumenep yang membantu Raden Wijaya saat dikejar-kejar tentara JayaKatwang.
  • Mahesa Anabrang, atau juga disebut dengan nama Kebo Anabrang dan Lembu Anabrang, adalah seorang mantan senapati Singasari (Ketua Ekspedisi Pamalayu) yang membunuh Ranggalawe, pada saat Ranggalawe memberontak pada Majapahit.
  • Dara Petak (harafiah berarti “Merpati Putih”) adalah istri kelima dari Raden Wijaya, merupakan putri dari Raja Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa dari Kerajaan Dharmasraya. Dari perkawinannya dengan Raden Wijaya, Dara Petak melahirkan seorang putra yaitu Kalagemet atau Sri Jayanegara yang menjadi penerus tahta ayahnya di Majapahit.
Diantara nama-nama yang menghiasi perjalanan sejarah Majapahit, bahkan kerajaaan sebelumnya ataupun sesudahnya nama-nama seperti itulah yang populer dipakai oleh golongan bangsawan maupun rakyat biasa. Karena hewan-hewan itu ada di lingkungan mereka. Kecuali untuk nama hewan gajah, kita hanya mendapati satu nama, yaitu Gajah Mada. Berangkat dari sinilah kalau Gajah Mada bukan orang Jawa. Satu-satunya pulau di Indonesia yang ada gajahnya adalah Sumatra. Yang pusat koservasinya ada di Way Kambas, Jambi. Dan kalau dilihat dari catatan sejarah, ada benang merah yang dapat ditarik.
Seperti tulisan diatas, Dara Petak berasal dari Kerajaan Dharmasraya. Kerajaan ini lokasinya ada di Sumatra, yang dapat disampaikan sebagai berikut :
  • Kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Melayu Jambi adalah kerajaan yang terletak di Sumatra, berdiri sekitar abad ke-11 Masehi. Lokasinya terletak di selatan Sawahlunto, Sumatera Barat sekarang, dan di utara Jambi.
  • Hubungan antara Mahesa (Kebo) Anabrang, Dara Petak, Dara Jingga,  dan Jayanegara
Diduga kuat Mahesa Anabrang ini adalah orang yang sama dengan tokoh yang dikenal sebagai Adwaya Brahman atau Adwayawarman, ayah dari Adityawarman yang disebutkan dalam Prasasti Kuburajo I di Kuburajo, Limo Kaum, dekat Batusangkar, Sumatera Barat. Menurut pembacaan Prof. H. Kern yang diterbitkan tahun 1917, tertulis bahwa batu prasasti itu “dikeluarkan oleh Adityawarman, yang merupakan putra dari Adwayawarman dari keluarga Indra. Dinyatakan juga bahwa Adityawarman menjadi raja di Kanakamedini (Swarnadwipa)“.
Dara Jingga adalah putri dari Tribuanaraja Mauliawarmadewa, raja Kerajaan Dharmasraya dan juga merupakan kakak kandung dari Dara Petak. Dara Jingga memiliki sebutan sira alaki dewa — dia yang dinikahi orang yang bergelar dewa — dinikahi oleh Adwaya Brahman, pemimpin Ekspedisi Pamalayu.
Nama tokoh ini juga ditemukan pada prasasti yang tertulis di alas arca Amoghapasa, yang ditemukan di Padang Roco, dekat Sei Langsat, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Menurut pembacaan R. Pitono, tertulis bahwa arca itu adalah hadiah perkawinan Kertanagara kepada seorang bangsawan Sumatera, dan “bersama dengan keempat belas pengiringnya dan saptaratna, dibawa dari Bhumi Jawa ke Swarnnabhumi” dan bahwa “Rakyan Mahamantri Dyah Adwayabrahma” adalah salah seorang pengawal arca tersebut.
Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga beserta keluarganya dan Dara Petak kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Kertanegara, raja yang mengutusnya. Setelah sampai di Jawa, ia mendapatkan bahwa Sang Kertanegara telah tewas dan Kerajaan Singasari telah musnah oleh Jayakatwang, raja Kediri.
Oleh karena itu, Dara Petak, adik Dara Jingga kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet atau Sri Jayanegara, raja Majapahit ke-2. Dengan kata lain, raja Majapahit ke-2 adalah keponakan Mahesa Anabrang dan sepupu Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung.
Berdasarkan catatan-catatan diatas, dapat disimpulkan saat Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Petak dari Sumatra ke Jawa, Gajah Mada termasuk dalam rombongan tersebut yang bertugas untuk mengawal keselamatan putri raja mereka sekaligus sebagai duta dari Kerajaan Darmasraya. Atau malah Gajah Mada ditugaskan secara khusus untuk menjadi pengawal pribadi Dara Petak. Yang akhirnya tinggal dan menetap di Majapahit mengikuti tuannya yang menjadi permaisuri raja Majapahit.
2. Versi Malang
Muhammad Yamin didalam bukunya yang berjudul Gajah Mada, Balai Pustaka, cetakan ke  6, Tahun 1960, hal 13 mengungkapkan tokoh ini sebagai:
“Diantara sungai brantas yang mengalir dengan derasnya menuju kearah selatan dataran Malang dan dikaki pegunungan Kawi-Arjuna yang indah permai,maka disanalah nampaknya seorang-orang indonesia berdarah rakyat dilahirkanpada permulaan abad ke-14.
Ahli sejarah tidak dapat menyusur hari lahirnya dengan pasti: ibu bapak dan keluarganya tidak dapat perhatian kenang-kenangan riwayat: Begitu juga nama desa tempat dia dilahirkan dilupakan saja oleh penulis keropak jaman dahulu asal usul gajah mada semua dilupakan dengan lalim oleh sejarah”
Jadi jelaslah menurut Muhammad Yamin, asal-usul Gajah Mada masih sangat gelap, walaupun ada dugaan bahwa Gajah Mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir keselatan diantara kaki gunung Kawi-Arjuna, diperkirakan sekitar tahun 1300 M.
3. Versi Bali
Keinginan untuk mengetahui asal-usul Patih Gajah Mada sebagai Negarawan besar pada Jaman Kerajaan Majapahit, telah lama menarik perhatian ahli sejarah, salah satunya I Gusti Ngurah Ray Mirshaketika mengadakan Klasifikasi Dokumen Lama yang berbentuk Lontar-lontar pada “perpustakaan Lontar Fakultas Sastra, Universitas Udayana” (sekitar tahun 1974. Salah satu lontar yang menarik perhatian diantaranya adalah lontar yang berjudul “Babad Gajah Maddha”. Lontar tersebut memakai kode: Krop.7, Nomer 156, Terdiri dari 17 Lembar lontar berukuran 50×3,5 cm, ditulisi timbal balik, setiap halaman terdiri atas 4 baris, memakai huruf dan bahasa Bali-Tengahan.
Lontar tersebut adalah merupakan Salinan sedangkan yang asli belum dapat dijumpai. Secara garis besar lontar babad Gajah Maddha tersebut berisikan
1. Asal Usul Gajah Mada
2. Gri Kresna Kapakisan dalam hubungannya dengan raja-raja Majapahit
3. Emphu keturunan pada waktu memerintah di Bali
Yang menjadi perhatian dari sekian lontar tersebut dan dapat dijadikan penelitian lebih lanjut adalah bagian yang menjelaskan tentang Asal-Usul/Kelahiran sang Maha Patih Gajah Mada.
“Tersebutlah Brahmana Suami-Istri di wilwatikta, yang bernama Curadharmawysa dan Nariratih, keduanya disucikan (Diabhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat. Setelah disucikan lalu kedua suami istri tersebut diberi nama Mpu Curadharmayogi dan istrinya bernama Patni Nuriratih. Kedua pendet tersebut melakukan Bharata (disiplin) Kependetaan yaitu :Sewala-brahmacari” artinya setelah menjadi pendeta suami istri tersebut tidak boleh berhubungan sex layaknya suami istri lagi.
Selanjutnya Mpu Curadharmayogi mengambil tempat tinggal (asrama) di Gili Madri terletak di sebelah selatan Lemah Surat, Sedangkan Patni Nariratih bertempat tinggal di rumah asalnya di wilatikta, tetapi senantiasa pulang ke asrama suaminya di gili madri untuk membawa santapan,dan makanan berhubungan jarak kedua tempat tinggal mereka tidak begitu jauh.
Pada suatu hari Patni Nariratih mengantarkan santapan untuk suaminya ke asrama di gili madri, tetapi sayang pada saat hendak menyantap makanan tersebut air minum yang disediakan tersenggol dan tumpah (semua air yang telah dibawa tumpah), sehingga  Mpu Curadharmayogi mencari air minum lebih dahulu yang letaknya agak jauh dari tempat itu arah ke barat. Dalam keadaan Patni Nariratih  seorang diri diceritakan timbulah keinginan dari Sang Hyang Brahma untuk bersenggama dengan Patni Nariratih. Sebagai tipu muslihat segerah Sang Hyang Brahma berganti rupa (berubah wujud, ”masiluman”) berwujud seperti Mpu Curadharmayogi sehingga patni Nariratih mengira itu adalah suaminya.
Segera Mpu Curadharmayogi palsu (Mayarupa) merayu Patni Nariratih untuk melakukan senggama, Tetapi keinginan tersebut ditolak oleh Patni Nariratih,oleh karena sebagai pendeta sewala-brahmacari sudah jelas tidak boleh lagi mengadakan hubungan sex,oleh karena itu Mpu Curadharmayogi palsu tersebut memperkosa Patni Nariratih.
Setelah kejadian tersebut maka hilanglah Mpu Curadharmayogi palsu, dan datanglah Mpu Curadharmayogi yang asli (Jati). Patni Nariratih menceritakan peristiwa yang baru saja menimpa dirinya kepada suaminya dan akhirnya mereka berdua menyadari, bahwa akan terdjadi suatu peristiwa yang akan menimpa meraka kelak.kemudian ternyata dari kejadian yang menimpa Patni Nariratih akhirnya mengandung.
Menyadari hal yang demikian tersebut mereka berdua lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan asrama itu, mengembara ke hutan-hutan ,jauh dari asramanya tidak menentu tujuannya,hingga kandungan patni Nariratih bertambah besar. Pada waktu mau melahirkan mereka sudah berada didekat gunung Semeru dan dari sana mereka menuju kearah Barat Daya, lalu sampailah disebuah desa yang bernama desa Maddha. Pada waktu itu hari sudah menjelang malam dan Patni Nariratih sudah hendak melahirkan, lalu suaminya mengajak ke sebuah “Balai Agung” yang etrletak pada kahyangan didesa Maddha tersebut.
Bayi yang telah dilahirkan di bale agung itu, segera ditinggalkan oleh mereka berdua menuju ke sebuah gunung. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa didesa Maddha,lalu oleh seorang patih terkemuka di wilatikta di bawa ke wilatikta dan diberi nama “Maddha”.
4. Versi Kalimantan
Ada pula yang meyakini Gajah Mada itu merupakan orang Dayak, Kalimantan Barat, yaitu dari sebuah kampung di Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sebagian masyarakat Dayak mempercayai hal ini berkaitan dengan kisah masyarakat Dayak Tobag, Mali, Simpang dan Dayak Krio. Tokoh Gajah Mada di Dayak Krio dikenal dengan nama Jaga Mada, namun masyarakat Dayak lainnya menyebutnya Gajah Mada, seorang Demung Adat yang mempunyai tugas mempersatukan nusantara.
5. Versi Nusa Tenggara Barat
Masyarakat Bima khususnya Dompu percaya kalau Gajah Mada berasal dari daerah ini, mengingat kemiripan dengan tokoh legenda masyarakat Dompu yaitu “ombu Mada Roo Fiko”. Ombu artinya Tuan, Mada artinya saya, Roo artinya telinga dann Fiko artinya lebar. Jadi ditafsirkan sebagi Tuan Mada bertelinga lebar (seperti gajah). Di daerah ini juga terdapat kuburan kuno yang diyakini sebagai makam Gajah Mada.
6. Versi Mongol
Ada yang mengatakan bahwa Gajah Mada merupakan perwakilan atau utusan tersamar Dinasti Yuan dari daratan Cina. Menurut seorang dosen Fisipol UGM, kota Trowulan yang merupakan pusat kerajaan Majapahit, jika dipindai dengan tekno remote sensing, maka akan nampak ada kanal-kanal yang disiapkan untuk jalur menuju laut.
LAIN-LAIN
A. Bunyi sumpah Palapa:
“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa”
“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat”
B. Bendera Majapahit: Merah Putih (bergaris)
bendera majapahit_merah putih bergaris
C. Lambang/Simbol Kerajaan: Surya Majapahit
lambang kerajaan Surya_Majapahit
D. Peta Wilayah Kekuasaan Majapahit:
peta wilayah kekuasaan majapahit
***
EPILOG:
Tulisan ini sama sekali tidak bertendensi pada pengklaiman terhadap sosok Gajah Mada berdasarkan wilayah, etnisitas, dan apalagi golongan atau orang tertentu. Sampai detik ini, segala legenda, mitos, maupun dugaan masih belum bisa menyingkap tabir asal-usul Gajah Mada. Yang jelas, Gajah Mada adalah sejarah Indonesia, dan oleh sebab itu sudah menjadi bagian integral bangsa ini; menjadi milik Indonesia.
Penulis menutup tulisan ini dengan mengutip sepenggal tulisan di buku karangan Langit Kresna Hariadi:
“Dengan kebebasan yang aku miliki, aku bisa berada di mana pun dalam waktu lama tanpa harus terganggu oleh keinginan pulang. Lebih dari itu, aku berharap apa yang kulakukan itu akan menyempurnakan pilihan akhir hidupku dalam semangat hamukti moksa. Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal-usul, tak diketahui siapa orang tuanya, tak diketahui di mana kuburnya, dan tak diketahui anak turunnya. Biarlah Gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.” (Gajah Mada Madakaripura Hamukti Moksa, Langit Kresna Hariadi, 2007).

Meneliti Jejak Kahuripan di Lereng Gunung Pegat Babat

Para budayawan-peneliti berdarah Lamongan “blusukan” lagi, demi cinta dan bakti mereka terhadap tanah leluhur yang sejarahnya disia-siakan terlalu lama. Mereka ialah Viddy Ad Daery, Sufyan Al-Jawi yang kali ini disertai Mat Rais dan Jumartono serta Ahmad Fanani Mosah dari LKL ( Lembaga Kebudayaan Lamongan ), dan kini mengarahkan penelitiannya ke tanah tinggi di lereng Gunung Pegat, Babat, ke sebuah desa yang bernama Kuripan, sebelah timur desa Puncak Wangi. Hal itu merupakan langkah lanjutan “meneliti jejak Mahapatih Gajah Mada di masa mudanya”, dimana temuan-temuan di lapangan semakin mengukuhkan teori yang berdasarkan folklore dari desa Modo dan sekitarnya, bahwa “Gajah Mada adalah kelahiran Modo dan sekitarnya”.
“Nama Kuripan itu menarik hati kami, karena merupakan toponimi atau pergeseran nama dari Kahuripan, dan menurut catatan arkeologi, sebelah desa Kuripan, yakni desa Puncak Wangi pernah ditemukan prasasti dan benda-benda kuno, maka kami menduga desa Kuripan pernah menjadi desa penting di masa lalu.” Kata Viddy Ad Daery yang bertindak sebagai juru-bicara tim peneliti tersebut.
“Ketika kami mendatangi lokasi desa Kuripan memang ada “aura” desa kuno, yakni tata desanya yang sederhana tapi rapi, yakni ada perempatan sebagai pusat desa, lalu dari situ rumah-rumah berjajar-jajar. Beberapa rumah juga masih tampak berciri kuno, yakni rumah limas atau rumah bucu kalau mewah”.Simpul Sufyan Al-Jawi, seorang Arkeolog-numismatik.
“Dalam prasasti disebutkan, bahwa vassal atau kerajaan bawahan Majapahit antaralain adalah Kahuripan dipimpin Bre Kahuripan dan Kabalan dipimpin Bre Kabalan. Nah, coba lihat, posisi Kuripan ini berseberangan dengan desa Kabalan ( kini Kebalan Dono ) nun disana, jadi pasti Kuripan ini dulunya mempunyai posisi sepenting Kabalan !” simpul Viddy pula.
Jumartono yang bertugas sebagai fotografer juga menyatakan, bahwa bulukuduknya merinding ketika memasuki desa Kuripan. “Aroma desa kunonya sangat kuat.” Kata pelukis yang kini menekuni art-fotografi itu.

Tim berhasil mewawancarai dua orang narasumber, yaitu Sutrisno yang rumahnya berada di dekat perempatan desa lama, dan H.Sulanan yang merupakan kyai desa. Sutrisno menuturkan kisah folklore yang berharga, bahwa dulunya desa Kuripan disebut “Tanah Majapahit”. “Orang-orang tua kami bertutur, bahwa di zaman Belanda dulu, konon Belanda tidak berani membeli tanah Kuripan karena merupakan “Tanah Majapahit” yang dikeramatkan”, tuturnya.
Sutrisno juga menuturkan, bahwa sungai di sebelah rumahnya dulu merupakan sungai yang agak besar dan membelah Gunung Pegat. “Jadi, orang-orang menyebut Gunung Pegat itu sebetulnya berasal dari sungai ini yang membelah Gunung…kalau jalan raya yang membelah Gunung Pegat sekarang itu kan baru dibangun oleh Belanda, jadi di zaman Majapahit, jalan raya itu belum ada.” Jelas Sutrisno.
Ketika ditanya mengenai bekas-bekas Istana Kerajaan , Sutrisno menuturkan bahwa konon dulu pernah ditemukan pondasi istana, tapi sekarang sudah hilang atau tertutup tanah, namun situs kuburan tua masih ada di Kuripan.Sebetulnya yang lebih fasih berkisah adalah Pak Haji Sulanan…” Kata Sutrisno memberi informasi lebih lanjut.

PERJALANAN ZAMAN
Sementara itu, H.Sulanan memberi informasi mengenai “kisah tutur nenek moyangnya”, bahwa desa Kuripan atau Kahuripan dulunya adalah “Desa Majapahit sampai zaman Prabu Brawijaya”, dengan jalan keluar-masuk desa mengarah ke barat atau ke arah desa Puncak Wangi.
“Namun semenjak zaman Prabu Brawijaya, desa diperluas ke arah utara, karena desa dari arah barat diserang oleh Kerajaan Blambangan dan dibumihanguskan. Arah utara masa kini adalah menyambung ke desa Payaman, desa Gendong, selanjutnya ke Plaosan tembus jalan raya Babat-Kabalan”, kisah H.Sulanan yang berprofesi petani merangkap kyai desa.
Perjalanan zaman adalah “up and down”. Selanjutnya, menurut H.Sulanan, di zaman akhir Majapahit, Payaman justru lebih maju daripada Kuripan, maka Payaman menjadi Kademangan, yang meliputi kelurahan Kuripan, Payaman, Sogo, Bedahan, Plaosan, Gembong, Terpan, Datinawong, Kepoh dan Awar-awar.
Menurut H.Sulanan, Demang yang paling terkenal adalah Adi Taruna yang merupakan kakek buyutnya. Pada zaman kejayaan Kademangan Payaman, Sunan Ampel sempat mampir ke situ untuk berdakwah, karena itu di Payaman ada kuburan Ngampel, yang kemungkinan adalah makam beberapa santri Sunan Ampel.
“Dulu, bengawan Solo kan mengalirnya ke selatan dari Bedahan ke Terpan, jadi Sunan Ampel konon mendarat atau melabuhkan perahunya di Terpan lalu mendaki bukit ke desa Kademangan Payaman.”kisah H.Sulanan yang kini berusia 66 tahun.
Kini, rupanya roda berputar lagi, dan Payaman kembali menjadi padukuhan, sedang Kuripan alias Kahuripan naik status lagi menjadi Kelurahan.
Menurut Ahmad Fanani Mosah, budayawan Babat anggota LKL, dari kisah sejarah desa Kuripan dan Payaman itu, sudah menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan desa penting di zaman Majapahit awal sampai Majapahit akhir. “Bahwa kini desa itu menjadi desa kecil terisolir di pedalaman wilayah Babat, lha begitu itulah perputaran roda zaman.” Simpul guru SMPN 3 Babat tersebut.
Dalam catatan sejarah resmi disebutkan , bahwa Kahuripan adalah wilayah vassal Majapahit paling penting , karena setiap putra mahkota dijadikan bre atau pimpinan di Kahuripan. Tribuana Tungga Dewi sebelum jadi Ratu Majapahit adalah Rani Kahuripan . Demikian juga Hayam Wuruk sebelum diserahi mahkota Raja Majapahit juga di”raja-muda”kan sebagai Bre Kahuripan.
“Bahkan yang menarik, Gajah Mada sebelum diangkat menjadi mahapatih Majapahit , di”tatar” dulu oleh Ratu Tribuana Tungga Dewi , ditugasi menjadi Patih Kahuripan , setelah matang , baru dipindah menjadi Patih Kediri, wilayah “musuh dalam selimut” Majapahit , dan setelah siap sebagai politikus yang matang, baru diangkat menjadi Mahapatih Majapahit!” simpul Viddy yang memandang dari sudut politik , karena Viddy kini juga terjun ke politik praktis masuk anggota Partai Politik tertentu , yang masih mempunyai visi idealis dan belum tercemar dosa korupsi dan belum pernah mengkhianati bangsa. 

Sumber : kompas.com

Situs Candi Slumpang Desa Siser

Baru-baru ini di daerah lamongan tepatnya desa siser kecamatan Laren di temukan sebuah bangunan yang menyerupai candi yang terletak di tengah persawahan. Dan diperkirakan bangunan tersebut adalah situs dari candi Slumpang.

Secara kronologis, sekitar Juli 2010 saat membajak dan membuat pematang, bajak dan cangkul penggarap sawah Warsian membentur benda keras.Setelah dicek ternyata membentur bongkahan bata yang bentuknya rapi. Selanjutnya temuan itu dilaporkan ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan Mojokerto, Balai Arkelogi, dan Pemerintah Kabupaten Lamongan. Namun menurut sumber dari pemilik tanah sebetulnya pada tahun 2001 telah ditemukan sebuah batu bulat menyerupai sebuah lumpang dan tinggi sekitar 1 meter muncul di permukaan tanah, namun dibiarkan. Dan tanah tersebut sudah lama tidak dikerjakan dikarenakan masyarakat desa menyakini akan kewingitan daerah tersebut, dengan sering terjadinya kejadian-kejadian aneh.

Pemerhati budaya, Supriyo dari Cakra Budaya dan Lembaga Studi Advokasi dan Pembaruan Sosial (LSAPS) Lamongan, menyebutkan penggalian itu atas usulan lembaganya. Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Lamongan meninjau lokasi dilanjutkan survei dari BP3 Trowulan. Pada 2011 LSAPS mengajukan penggalian ke Pemkab Lamongan. Pada 2012 ada pengajuan dukungan dari BP3 Trowulan dilanjutkan survei praekskavasi.

Penggalian tahap awal dilakukan pada 19-25 November oleh LSAPS dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan dengan dana Pemkab Lamongan. Supriyo, Senin (26/11) menegaskan situs Candi Slumpang merupakan salah satu peninggalan bersejarah di Lamongan.
Bangunan candi itu digunakan untuk pemujaan demi kesuburan tanah yang ditandai lingga yoni. Pemujaan terhadap kesuburan tanah itu juga bisa dilihat dari lokasi candi di daerah subur dan potensial untuk pengembangan pertanian.

Wilayah sekitar candi yang ada di sekitar Bengawan Solo dulunya menjadi sentra ekonomi kerajaan dan menjadi basis sumber pangan sampai kini. Akan tetatpi hingga kini belum ditemukan prasasti terkait Candi Slumpang.

Prasasti yang ditemukan selama ini lebih banyak terkait dengan Airlangga. Namun temuan candi Slumpang jika dikaitkan dengan keberadaan candi dekat Bengawan Solo, di era Majapahit dalam prasasti canggu disebutkan ada naditira pradesa. Maksudnya desa yang punya otonomi dan bebas dari pajak dan punya hak dan kewajiban mengelola penyeberangan sungai.

Nama desa dalam prasasti itu ada sampai kini termasuk tambangan (penyeberangan sungai). Diantara titik tambangan itu Widang (Tuban)-Babat (Lamongan), Kendal (Sekaran),Pasiwuran kini Siwuran (Maduran),Wareng kini Parengan (Maduran), Parijik kini Prijek (Laren)-Karanggeneng, Sambo (Karangbinangun), Blawi (Glagah). Dan diperkirakan masih banyak candi-candi kecil di sekitar pinggiran bengawan solo yang belum terdeteksi.

"Ada hubungan antara tambangan Siwuran (Maduran) dengan Candi Slumpang di Siser (Laren). Diperkirakan masyarakat di sekitar Bengawan Solo utamanya di sisi selatan sungai menyeberang melalui Siwuran untuk melakukan pemujaan kesuburan," papar Supriyo.

Ketika tim redaksi dari Lamongan kota.blogspot mengunjungi, beberapa awak tim merasakan perjalan yang berat. Dari arah desa sekaran tim menyeberang bengawan solo dengan perahu dari desa siwuran menuju desa njasem (mojoasem) kemudian dilanjutkan menuju desa siser. Setelah memarkir kendaraan dengan tarif 2000,-, tim harus rela berjalan kaki di pematang sawah sekitar 800 meter. Tak ayal lagi, banyak awak yang merasa tidak kuat, namun karena rasa penasaran  maka tim rela untuk melanjutkan dengan sekali-kali beristirahat sambil memandang hamaparan sawah yang sudah menghijau. Dan akhirnya tim pun sampai di situs candi Slumpang.

Situs candi slumpang masih terlihat atasnya saja dan beberapa tumpukan batu bata, dan itupun sudah ada yang pecah karena ke tidaksengajaan warga setempat dalam penggalian. Area situs dipagari dengan tali seadanya untuk menghindari jangkauan pengunjung.

Rute bagi pengunjung luar kota yang ingin melihat situs Candi Slumpang

Bagi yang membawa sepeda motor harus menitipkan dulu di dekat Madrasah Ibtidaiyah AL ISLAMIYAH Mojoasem. Selain itu ada kotak amal yang bisa diisi pengunjung yang diletakkan di sisi barat sekitar 10 meter dari lokasi candi. Kepala Dusun Siser Warsian, yang juga menggarap sawah tempat temuan candi menuturkan penitipan sepeda baru dibuka mulai Sabtu (24/11). Jasa parkir itu dikelola pemuda setempat dengan tarif Rp 2.000. "Lokasi candi di tengah sawah sekitar 600 meter dari tepi tanggul tempat sepeda diparkir. Kalau tidak ada yang menjaga dan ada yang hilang kan kasihan," ujar Warsian. Untuk menuju lokasi dari arah Surabaya-Lamongan lewat Pucuk. Sampai wilayah Maduran lewat tambangan (penyeberangan sungai Bengawan Solo) di Desa Siwuran. Usai menyeberang sepeda motor bisa dititipkan di MI Mojoasem, lalu berjalan kaki ke lokasi candi di tengah sawah. Jaraknya sekitar 600 meter dari penitipan motir. Pengunjung dari arah Tuban dan Bojonegoro juga bisa lewat SMP Negeri 3 Babat sampai Bendung Gerak Babat, lalu turun menelusuri tepi Bengawan Solo lewat Desa Centini menuju Desa Mojoasem. Tetapi tanggul yang juga berfungsi untuk jalan kondisinya rusak. Selama melihat candi pengunjung diimbau bersikap sopan dan jangan sampai merusak bahan-bahan yang sudah tergali termasuk bata kumbung. Imbauan itu disampaikan dalam bentuk tulisan, "Harap Bersikap Sopan di Situs Candi Slumpang.

Tim Arkelog Sudah Berani Memastikan Situs Candi Slumpang Termasuk Candi Hindu

Tim Arkeolog dari Balai Penelitian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, menyimpulkan situs yang ditemukan di Desa Siser, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur adalah Candi Hindu.
"Untuk sementara kami simpulkan candi di Lamongan dulunya digunakan sebagai tempat pemujaan masyarakat hindu, yakni memuja Dewa Shiwa, dan merupakan Candi Hindu" kata salah satu anggota tim arkeolog BP3 Trowulan, Wicaksono Adi Nugroho ketika di konfirmasi.

Dalam penelitian dan penggalian yang dilakukan tim selama lima hari dan berakhir pada 25 November 2012 kemarin, tim juga menemukan bangunan parit dan pagar di sekitar candi. Nugroho juga menduga di sekitar candi masih banyak bangunan kuno lainnya, sehingga perlu dilakukan pengembangan dengan melakukan penelitian dan penggalian.

Dalam penggalian itu, tim juga menemukan fakta pondasi struktur candi yang terbuat dari batu kumbung, dan memiliki pondasi atau umpak lain yang berfungsi sebagai atap candi, sehingga dengan fakta itu diperkirakan bangunan candi memiliki atap berbentuk cungkup.
Nugroho menduga di sekitar candi masih banyak bangunan kuno lainnya, sehingga perlu dilakukan pengembangan dengan melakukan penelitian dan penggalian.
Namun sayang, penggalian ini sementara waktu dihentikan, jadi masyarakat harus bersabar untuk menanti wujud seutuhnya candi.
"Saat ini, penggalian sementara dihentikan sebab pemerintah daerah setempat tidak menyediakan dana cukup untuk proyek penggalian situs selanjutnya," kata Supriyono.




Nama dan Sifat Orang Lamongan

Nama Lamongan berasal dari kata “Lamong” bahasa Jawa Kuno menjadi Lamongan, seperti Surabaya menjadi Surabayan, Madura menjadi Maduran, Sawah menjadi Sawahan, Semarang menjadi Semarangan, Tuban menjadi Tubanan dll. Lamong berarti gila, meraban, meracau, gila asmara, tergesa-gesa, tipis, tembus pandang, cepat, (ekstrem kan artinya?) menurut kamus bahasa Jawa. Lamong terdiri dari dua suku kata, yaitu “la” dan “among” bahasa Sansekerta (Jawa Kuno) yaitu la = panjang, sulit ; among = memelihara, menguasai, melindungi, membina, mengayomi. Tapi arti sesungguhnya adalah "sulit dikuasai"

Kata “Lamongan” banyak dipakai orang antara lain nama Plamongan di Semarang, Kali Lamong dan desa Lamongrejo di Kecamatan Ngimbang, dan ada Gunung Lamongan. Dengan penjelasan bahwa Gunung Lamongan ditempati makam salah seorang Tumenggung Lamongan yang anti Belanda, juga merupakan gunung berapi yang kawahnya selalu berpindah menjadi Ranu.

Sifat orang Lamongan mengutamakan kebersamaan, suka berjuang, ulet berkerja, agamis, terbuka, halus, perasaan, jujur, penuh tanggung jawab, dan petualang (bangga kan jadi orang Lamongan?). Namun, kadang kala kaku dan kasar bila tidak diajak musyawarah, suka merantau, berani membela sebuah kejujuran, tidak garang, dan suka membantu (ehem). Bahasa orang Lamongan adalah bahasa pesisir yang lugas penuh dialek Osing, Madura, Jawa Ngoko, diwarnai budaya Arek atau Bocah (Singosari atau Majapahit).


Orang Lamongan suka berjuang, hal ini dapat dibuktikan bahwa zaman Majapahit orang Lamongan banyak yang menjadi pasukan tempur Majapahit sejak kekuasaan komando Mahapatih Gaja Mada sebagai pasukan darat dan laut. Adipati Unus waktu menyerang Malaka 1513 M dibantu orang Lamongan yang dinamakan Pangeran Sabrang Lor yang kini makamnya berada di Banten. Perang melawan sekutu tanggal 10 November 1945 di Surabaya juga banyak orang Lamongan yang ambyur dalam perjuangan ini dalam laskar Hizbullah-Sabillilah. Tahun 1966 juga tidak sedikit andil perjuangan rakyat untuk ikut menumpas pemberontakan PKI dalam G.30S/PKI sampai ke akar-akarnya.

Sekarang tambah bangga kan menyandang gelar “warga Lamongan” ?


Catatan :.... Ini hanyalah merupakan hitung-hitungan sistematis tentang nama, sifat dari historis. Dan kami yakin setiap daerah mempunyai keunggulan nama dan sifat dari sejarah daerah itu sendiri.


 
Support : Creating Website | Johny Template | Template
Copyright © 2011. mengenal kota lamongan - All Rights Reserved